Lukisan wajah sakinah - part 1


Lukisan Wajah Sakinah


    Semua orang tahu Bumi memang berputar, tapi kehidupan tak pernah berputar. Sejak aku lahir sampai menyelesaikan sekolah Paket C dua tahun lalu, kehidupanku masih terus berkutat di Kampung Sukawangi ini dengan taraf ekonomi kelas bawah. Menyambung hidup dengan membantu bapak mengurus sawah. Aku ingin seperti Sarkim, sudah punya motor dan mobil pribadi. Apakah aku harus mengambil jalan seperti Sarkim, merantau ke Jakarta demi nasib yang baik? Pertanyaan itu kusampaikan padaSakinah.

“Kang Restu sudah yakin mau kerja di Jakarta?” tanya balik Sakinah. Kami duduk di atas kursi panjang, di bawah pohon rambutan, 20 meter dari rumah Sakinah. Di hadapan kami sawah-sawah dan aliran anak sungai yang keruh menjadi pemandangan. Matahari makin turun ke ufukBarat.

“Setidaknya Paket C yang sudah kuperjuangkan bisa kugunakan. Aku sampai harus menjual 2 ekor kambing milik Bapak demi membiayai ujian Paket C itu. Sekarang ijazah itu harus kugunakan, kan?” jawabku.

“Jadi Kang Restu mau ke Jakarta untuk memperjuangkan apa? Untuk mempertanggungjawabkan ijazah atau untuk memperbaiki hidup?” Sakinah kembali menanyaiku.

Aku menoleh padanya. Gadis tamatan SMP yang tidak bisa mengikuti sekolah Paket C karena terhambat biaya ini, kuakui lebih cerdas dariku. Dia sangat sederhana, berbakti dan tidak pernah kudengar mengeluh. Bagaimana aku tak bisamengaguminya?

“Mengubah nasib, Sakinah. Bagaimanapun aku lelaki. Saat menikah nanti aku harus mempunyai dana. Saat sudah berumah tangga semua kebutuhan harus aku penuhi sebagai tanggungjawab nafkah. Saat punya anak, mereka harus punya kehidupan yang lebih baik,” kataku.

“Kalau hidup sebagai petani di kampung, apakah kehidupan tidak akan lebih baik, Kang?”

“Kurasa tidak. Kehidupan kita akan seperti ini terus. Roda tidak berputar jika kita tidak berani melangkah dari sini. Kamu bisa lihat bagaimana hidup bapakku, bapakmu, dan kebanyakan penduduk kampung di sini. Mereka menggantungkan hidup dari bertani. Lihat hasilnya, sekolah anak-anak mereka terputus, makanan yang dimakan kurang bergizi, mau buka usaha tak ada modal. Semua serba terbatas.”
Sakinah tidak merespons.

“Coba kamu lihat si Sarkim, Doni, Agus, Mustofa dan Dimas. Mereka sekarang sudah punya kehidupan yang menyenangkan, di rumahnya ada kulkas, bahkan mesin cuci. Kamu tidak mau hidup seperti mereka?” tanyaku akhirnya.

Tidak ada suara. Sejenak Sakinah menengok rumahnya. Dinding bilik bambu, tiang penyangga sudah keropos, atap rumah bertambal-tambal. Dia kembali menatapku.

Aku menggenggam tangannya.“Niatku sudahkuat, Sakinah. Aku akan merantau.

Setelah itu, aku akan kembali dan kita akan menikah.”

Ada getar yang kurasakan dari genggaman Sakinah. Namun ia seperti tak mau membicarakan apa yang dirasakannya. “Apa yang kamu cemaskan?” tanyaku.
“Aku takut Kang Restu tidak kembali lagi.”