Lukisan wajah sakinah - part 2



“Aku pasti kembali, Sakinah. Aku janji. Kamu bersabarlah menungguku. Mungkin aku akan kembali setiap 3 bulan. Aku akan menabung. Kita akan menikah tahun depan.” Aku merapikan rambut di kening Sakinah sembari menatapnyadalam-dalam.

Saat menatap Sakinah, aku melihat wajahnya dibuat dengan sentuhan penuh kehati- hatian. Warna kulitnya bersih meski ia tidak menggunakan produk pembersih kulit, rambutnya hitam dan lembut, hidungnya bangir, matanya menyimpan mata air yang sangat jernih dan menenangkan. Kurasa, alam raya bersatu padu memberikan keindahan saat Sakinahterlahir.

“Aku akan sangat merindukanmu,” kataku dengan suara rendah.

Selepas berbicara dengan Sakinah sore hari, pada malam harinya aku sempatkan bicara dengan bapak dan ibu dirumah.

“Kalau kamu kerja di Jakarta, siapa yang akan melanjutkan mengurus sawah-sawah? Usia Bapak sudah 64 tahun, Bapak tidak tahu bakal kuat mengurus sawah berapa tahun lagi,” kata bapak.

Aku belum memikirkan rencana apapun terkait sawah-sawah itu. Di keluargaku aku satu-satunya anak lelaki. Kedua kakakku perempuan. Jelas bapak mengharapkan aku yang akan menjadi penerusnya.

“Memangnya kamu sudah tahu akan kerja di mana, gaji berapa, dan tinggal di mana?” kali ini ibu yang menanyakan.

“Aku akan ikut Dimas, Bu. Minggu ini dia akan kembali ke Jakarta. Sebelumnya kami sudah mengobrol, untuk sementara Restu akan tinggal bersama Dimas,”jawabku.

Ibu melirik bapak. Lalu bergantian menatapku. “Ibu tidak percaya sama si Dimas. Selama di kampung saja, kerjaan dia cuma bikin gaduh, tidak pernah kelihatan salat, dan anaknya kurang sopan.”

“Tapi itu, kan, dulu, Bu. Waktu dia belum kerja. Sekarang ibu bisa lihat sendiri, dia nggak suka bikin keributan. Dia sekarang sudah dewasa, Bu,” belaku.

“Ya, karena dia sekarang sudah punya penghasilan. Dia tidak mau bergaul dengan anak kampung sini lagi,” balas itu.

“Itu artinya dulu dia jadi nakal gara-gara pergaulannya di sini, Bu. Ibu jangan suudzon, dong. Dia bersedia ajak Restu kerja, berarti dia punya niat baik dan tidak sombong,” aku masihmembela.

“Sudah, sudah,” bapak memotong. “Begini saja, kalau keputusan kamu memang sudah bulat, Bapak tidak akan keberatan. Asalkan kamu bertanggungjawab. Kamu buktikan bahwa kamubisa.”
Aku mengangguk. “Aku tidak akan mengecewakan Bapak dan Ibu,” kataku. Ibu masih terlihat belum rela.

Aku akhirnya berangkat ke Jakarta bersama Dimas. Kami menaiki bus dari Pandegelang, Banten, sampai ke Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Semalam, aku menyempatkan diri ke

rumah Sakinah untuk berpamitan sekaligus meminta doanya untuk keselamatan dan keberhasilanku. Penyakit pernapasan yang diderita bapak Sakinah makin terlihat parah semalam. Aku cukup mengkhawatirkan Sakinah, bagaimana cara dia melewati segala kesulitan hidupnya? Ibunya sudah meninggal karena sakit maag kronis lima tahun lalu. Aku meminta pada ibu untuk mengebariku jika terjadi sesuatu dengan Sakinah.

“Restu.” Suara Dimas mengalihkanku. “Selama dua minggu ke depan, biaya makanmu aku yang tanggung. Untuk seterusnya, kamu harus tanggung semua kebutuhanmu selama di Jakarta. Minggu ini kebetulan ada proyek perbaikan jembatan sunga di daerah Pulogadung. Saya sudah minta ke teman saya untuk memasukkan namamu. Sistem pembayaran dibayar per minggu, per bulan atau setiap proyeknya selesai. Tergantung dari jenis proyek dan hasil kesepakatan,” jelas Dimas.
Aku mengangguk.

Aku tinggal di sebuah kost tiga kali tiga meter bersama Dimas. Proyek pembetulan jembatan di Pulogadung masih berjalan. Aku mendapat tugas bagian pengisi ember dengan semen coran. Tugasku memang masih hal-hal sederhana. Aku masih terlalu baru untuk mengambil tugas-tugas berisiko.

Satu bulan di Jakarta, aku sudah menyewa kamar kost sendiri, terpaut empat kamar dari kamar kost Dimas. Proyek pembetulan jembatan sudah selesai. Dan aku sekarang sedang menjalankan proyek pembersihan jendela-jendela gedung apartemen di Jakarta Pusat. Aku mendapatkan bagian tugas mengurusi peralatan kerja para pembersih gedung. Untuk dapat menjadi pembersih gedung, dibutuhkan sertifikat profesi bekerja di ketinggian. Bayaran pembersih gedung jelas lebih tinggi dibanding aku yang hanya bertugas sebagai pembantu mereka.

Satu bulan bekerja, aku sudah merasa terlalu lama tak berjumpa Sakinah. Aku ingin tahu kabar dan keadaannya. Gadis itu tidak bisa dihubungi karena dia tidak memiliki ponsel pribadi. Semoga gadis berwajah seindah lukisan alam itu baik-baik saja.

Memasuki bulan kedua, aku ikut pengerjaan proyek pembuatan sebuah gedung lima lantai di Jakarta Timur. Pada proyek ini aku harus tinggal di basecamp sementara bagi para pekerja yang berdinding triplek dan beratap asbes. Basecamp ini terasa sangat gerah di siang hari dan aroma bau keringat para pekerja jadi makin tercium. Pada bulan kedua ini juga aku mendapat kabar bahwa bapak Sakinah meninggal dunia.

“Lalu bagaimana, Bu, kabar Sakinah?” tanyaku pada ibu melalui telepon.

“Sakinah baik-baik saja. Ibu belum sempat bicara dengan Sakinah sepanjang hari. Biar dia tenang dulu. Tapi sejujurnya ibu tidak tega melihat dia,” kata ibu. “Sekarang dia harus tinggal sendiri,”lanjutnya.

“Bagaimana kalau Sakinah diajak tinggal di rumah kita saja, Bu? Lagipula, aku akan jadi suaminya. Rumah kita akan jadi rumah dia juga, kan,” usulku.

“Ibu akan coba tawarkan ke dia, ya.” “Baik, Bu.”

Aku tidak tenang memikirkan Sakinah. Semoga ibu berhasil membujuknya untuk tinggal bersama keluargaku. Ingin sekali aku meneleponnya. Ingin memastikan keadaannya sekaligus melepas rindu tak bertemu. Sayangnya Sakinah tak memiliki ponsel.

Selepas tujuh hari meninggalnya bapak Sakinah, ibu mengabarkan bahwa Sakinah tidak bisa tinggal dengan keluargaku. Pamannya membawa Sakinah tinggal di rumahnya. Meski tak sesuai keinginanku, setidaknya aku merasa lega. Bagaimanapun saat ini Sakinah sudah aman.