Lukisan wajah sakinah - part 3



    Aku melanjutkan pekerjaanku. Pembuatan gedung tidak akan sebentar, setidaknya lima sampai enam bulan ke depan aku akan bekerja dalam proyek pembangunan ini. Bahkan bisa lebih lama dari itu. Dimas tidak ikut dalam proyek ini. Dia sedang mengikuti Sertifikasi Tenaga Ahli K3 Umum di luar kota. Setelah lulus sertifikasi, pekerjaan Dimas tidak akan seberat pekerja proyek lain. Selain itu, gajinya akan lebih tinggi. Suatu saat aku ingin ikut sertifikasi seperti Dimas.

Dimas telah selesai mengikuti sertifkasi dan kembali ke kost. Malam hari dia menghubungi dan mengajakku untuk pergi mencari hiburan. Aku tidak diberi tahu akan diajak ke mana. Dia hanya menyampaikan bahwa aku perlu hiburansesekali.

“Ini malam Minggu, Restu. Otot-ototmu itu terlalu tegang. Perlu diregangkan,” katanya. Akhirnya aku mengiyakan.

Dimas Rizkiansyah, dia adalah temanku sejak kecil. Anaknya sangat pemberani. Sudah kenal rokok sejak kelas 5 SD, tak kapok mencuri kelapa muda dan mangga di kebun orang meski pernah ketahuan, dan tidak segan berkelahi jika ada yang dirasanya

mengganggu. Tak heran dia terkenal sebagai anak yang nakal. Namun bagiku Dimas adalah kawan yang sejati. Dia tidak pernah merundungku meski aku banyak tak sejalan dengannya. Biasanya anak-anak lain senang merundungi orang yang tidak sejalan dengan mereka.

Kami berhenti di sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai. Motor diparkir di samping gedung. Rupanya di belakang gedung tidak sesuram apa yang terlihat di depan. Pemuda, bapak-bapak dan perempuan-perempuan cantik ramai, lampu kerlap-kerlip menghiasi pinggiran atap, gelak tawa terdengar.

Dimas melangkah di depanku. Dia duduk di kursi meja yang sudah diisi 3 orang temannya. 1 laki-laki, 2 perempuan. Aku ikut duduk di samping Dimas. Kami berkenalan, saling bertanya asal dan pekerjaan. Aroma alkohol tercium sejak aku memasuki ruangan ini. Di meja tempatku duduk sudah ada sebotol anggur merah beserta gelas-gelasnya. Dimas tak memberi penjelasan apapun.

Adam, teman lelaki Dimas, menuangkan anggur dan menyerahkannya padaku. Aku bingung bagaimana cara menjelaskan padanya bahwa aku tidak minum alkohol. Aku melirik Dimas, dia hanya menoleh sebentar dan air mukanya datar-datar saja. Seolah berkata “kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan, Restu.”

“Ayo, Bang, kita bersulang,” ujar seorang gadis di sampingku.

Entah apa yang menggerakkan tanganku. Aku tak bisa menolak gelas itu. Kami bersulang, termasuk Dimas, lalu meneguk anggur dengan tawa yang lepas. Aku canggung dan takut. Namun aku tetap meminumnya. Aku tak ikut tertawa, hanya kupaksakan senyuman.

Anggur kembali dituangkan untuk sulang kedua. Kami kembali menengguknya. Pada gelas ketiga, aku sudah dapat merasa cair dan berbaur. Dimas memesan minum jenis lain. Kami meminumnya dalam ukuran gelas kecil. Katanya, ini disebut tequila. Tiga kali tegukan dalam takaran gelas kecil, cukup membuatku merasa melayang dan tak punya beban apapun. Aku bahagia dan ikut tertawa-tawa. Semua terasa indah malam ini.

Seorang gadis yang sebelumnya tak kulihat, duduk di sampingku. Ia menggenggam- genggam tanganku, memelukku dan bermanja-manja padaku. Aku tak keberatan. Dia perempuan yang cantik dan kulitnya putih bersih.

Ponselku berdering. Kakak perempuanku menelepon. Aku mengangkatnya, namun suara ibu yang terdengar.

“Restu, bagaimana kabarmu?” tanya ibu.

“Aku baik-baik saja, Bu. Malah aku bahagia. Jakarta itu menyenangkan! Kenapa aku baru sekarang ke Jakarta, ya, Bu?” aku menjawab dengan hati bahagia dan sesekali tertawa.

“Ada berita tentang Sakinah yang harus kamu ketahui. Kamu jangan panik mendengar ini, ya. Sakinah dijodohkan dengan Sarkim. Pamannya melakukan ini demi meringankan beban hidupnya juga Sakinah.”

Hmm, Sakinah mau dinikahkan. Entah mengapa kabar ini tidak terdengar buruk bagiku. “Tidak mungkin, Bu. Sakinah sudah cinta mati padaku. Dengar, ya, Bu, aku akan jadi orang sukses di Jakarta. Aku akan menikah dengan Sakinah dan kami hidup bahagia. Selamanya.” Aku tertawa lepas.

“Restu, ini serius. Kalau kamu memang ingin menikahi Sakinah, sebaiknya kamu pulang sebentar, bicarakan dengan pamannya. Kalau tidak, kamu harus mengikhlaskannya.”

Aku tertawa sesekali. Perempuan di sampingku bermanja dengan mengatakan sayang- sayang.