Lukisan wajah sakinah - part 4


“Restu, itu suara perempuan, siapa? Kamu sedang mabuk?” suara ibu terdengar tak terima di telepon. Kenapa, sih, ibu harus marah-marah? Kan, aku di sini senang-senang.
“Restu!”

Aku mematikan telepon.

Pagi hari aku terbangun di sebuah kamar berukuran dua kali tiga meter yang tak kuketahui ada di mana. Seluruh pakaianku sudah terlepas. Di sampingku seorang gadis yang tak kukenal tertidur pulas. Aku mengangkat badan dengan mata melotot. Satu hal yang pertama kali muncul di kepalaku adalah Dimas.
Di mana Dimas? Kenapa dia tidak membawaku pulang? Aku segera memakai baju. Mengambil ponsel dan dompet di meja. Keluar kamar. Berlari ke jalanan. Mencari ojek untuk mengantar kembali ke kostan.

Di sana aku memberodoli Dimas dengan kekesalan dan pertanyaan.

“Semalam kamu sangat bahagia dan menikmatinya. Kamu sudah memutuskannya sendiri. Plis, Restu, kamu laki-laki dewasa! Jangan bertingkah seperti anak kecil seperti ini!” kata Dimas.
Aku kecewa, tapi aku tak tahu letak kesalahan Dimas yang mana yang harus kumaki. Aku memang sudah mengambil keputusan semalam. Mulai dari ikut ajakannya sampai ikut minum sampai mabuk.
Aku memasuki kamarku. Duduk dan membuka ponsel. Pesan masuk dari ibu melalui nomor kakak perempuanku menumpuk belum dibuka. Dua minggu lagi Sakinah akan dinikahkan dengan Sarkim. Lamaran sudah diterima. Sedangkan aku belum sama sekali berbicara dengan Sakinah.
“Argghhh, kenapa jadi seperti ini? Aku tidak rela kehilangan Sakinah. Sakinah harus menikah denganku, bukan dengan Sarkim! Aku ingin selamanya memiliki keindahan alam yang terlukis di wajah Sakinah!” Aku tiba-tiba memebenci dan menyesali banyak hal.
Aku membuat tegad. “Aku harus pulang dan menggagalkan pernikahan mereka!”

Aku menelepon Pimpinan Proyek, meminta izin untuk tidak masuk selama tiga hari ke depan. Namun permohonanku ditolak karena tidak ada alasan darurat atau alasan yang sesuai dengan perjanjian kontrak kerja. Aku menimbang-nimbang. Bolos kerja? Reputasiku bisa berantakan. Aku masih pekerja baru yang sudah diberi pekerjaan proyek besar. Tapi merelakan Sakinah pun terlalu beratbagiku.
Maka kuputuskan siang itu pulang ke Pandeglang, Banten. Aku sudah bersedia dengan segala risikopekerjaanku.
Sesampainya di rumah, ibu mengomel dan meminta penjelasan dariku. Meski sangat berat mengakuinya, aku tak mau berbohong. Aku mengakui kesalahanku dan meminta maaf. Ibu menamparku dengan wajah marah.
“Belum satu tahun kamu di Jakarta, Restu!”

Bapak menenangkan ibu. “Sudah, Bu. Biar Bapak yang bicara.”

Ibu meninggalkan kami berdua. Semua sudah terjadi. Bapak menasihatiku panjang lebar dan memintaku menyelesaikan semua urusan kepulanganku ini. Aku masih lelah, tapi aku masih belum lega sebelum bertemu dengan Sakinah. Aku meminta tolong pada kakak perempuanku untuk menyampaikan pesan pada Sakinah bahwa aku ingin menemuinya di bawah pohon rambutan tempat biasa kami mengobrol sore hari. Meski dengan berat hati, kakak perempuanku bersedia membantu.

“Bagaimanapun aku anak perempuan, Kang. Sekarang pamanku sudah kuanggap sebagai orangtuaku sendiri. Aku tidak mau menyakiti paman dengan menolak perjodohan ini,” kata Sakinah. Suara Sakinah yang selama ini kurindukan terasa menentramkan seluruh kegelisahanku. Wajahnya yang serupa lukisan keindahan alam ingin selalu kutatap sampai hari tua. Sesuatu yang justru semakin membuatku takut kehilangannya.
“Kamu tidak mau menyakiti pamanmu, tapi kamu telah menyakiti hatimu, Sakinah,” kataku. “Aku tidak keberatan bicara dengan pamanmu. Tapi aku minta kita harus satu suara. Kamu harus mengatakan bahwa kamu ingin menikah denganku, bukan dengan Sarkim.”
Aku menggenggam tangan Sakinah. “Aku rela kehilangan pekerjaan di Jakarta, asal tidak kehilanganmu, Sakinah.”