Lukisan wajah sakinah - part 5



Fajar sudah hampir tenggelam. Langit terlihat memerah, sawah dan kebun sudah sepi, suasana yang biasanya sangat menenangkan dan indah ini terasa suram.
“Sakinah, sebentar lagi malam. Tidak baik berduaan dengan lelaki di tempat sepi seperti ini. Bisa menimbulkan fitnah!” Seseoang berbicara dari arah belakangku. Aku menoleh. Kang Ajie, yang tak lain adalah paman Sakinah, sudah berdiri dengan mengenakan sarung.
Aku segera menghampirinya. “Kang, kumohon, aku sudah sangat serius dengan Sakinah. Aku bersungguh-sungguh ingin menikahinya,” kataku tanpa pengantar dan basa- basi apapun.
Sakinah mendekati pamannya yang tak tersenyum sedikitpun. “Kalau kamu memang ingin serius dengannya, tidak seperti ini caranya! Kamu bawa orangtuamu ke rumahku. Bicarakan di sana semuanya.”

Meski nada suaranya terdengar menegangkan, aku dapat merasakan secercah harapan dari kata-katanya. “Baik, Kang. Malam ini aku dan orangtuaku akan ke rumah Kang Ajie.”
“Jangan buru-buru. Malam ini ada pengajian di rumahku. Besok malam saja.” “Baik, Kang.” Aku mengangguk dan tersenyum.
Sakinah dan pamannya meninggalkanku.

Aku tidak akan melewati kesempatan pertemuan ini. Aku menatap senja yang makin tenggelam dengan senyum harapan. Tiba-tiba saja senja yang tadi suram jadi terlihat indah kembali. Semoga ini pertanda baik.

Aku dan kedua orangtuaku datang ke rumah Kang Ajie, paman Sakinah. Di sana Kang Ajie dan istrinya duduk di hadapan kami. Sakinah hanya datang mengantarkan minum, lantas kembali ke dapur.
“Mohon maaf, Kang, kalau kedatangan kami ke sini tidak dengan persiapan yang matang. Sepertinya Kang Ajie sudah tahu maksud kedatangan kami ini,” bapak mulai menyampaikan pengantarnya. “Sebagaimana yang sudah diketahui bersama Kang, Restu dan Sakinah sudah dekat dan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sejak lama. Apa tidak sebaiknya dipertimbangkan perjodohan Sakinah dengan Sarkim?” tanya bapak.
“Aku mengerti, Pak, pasti berat untuk Restu melepaskan Sakinah. Tapi sama-sama kita ketahui, bahwa pacaran itu diharamkan dalam Islam. Selama Restu dan Sakinah hanya berstatus pacaran, salah satu dari mereka berhak menikahi siapapun tanpa harus ada pernyataan berpisah, Pak,” kata KangAjie.
“Kalau begitu saya nikahi Sakinah, Kang!” aku menyerobot. Ibu memegang pahaku sebagai isyarat untuk tenang dan tetap sopan.
Kang Ajie menatapku. Sejenak dia tidak bicara. Entah apa yang membuatnya ragu untuk bicara. Matanya malah kembali menatap bapak dan ibu. “Perjodohan ini sudah disepakati, Pak, Bu,” katanya.
Terdengar suara pecahan gelas dari ruang dapur. Semua orang melirik ke arah dapur.
Istri Kang Ajie melangkah ke dapur, memastikan apa yang terjadi.

“Saya sungguh-sungguh mencintai Sakinah, Kang. Kami sudah saling mengenal satu sama lain.” Aku masih tetap bertahan dengan pendirianku untuk tidak melepaskan Sakinah.
“Tapi ...,” suara Kang Ajie tertahan. Istrinya datang dari dapur dengan membawa Sakinah. Terlihat jelas mata Sakinah merah dan basah. Kang Ajie terkejut melihatnya. Ini sangat menunjukkan bahwa Sakinah menahan bebas.