Lukisan wajah sakinah - part 6


Kang Ajie dan semua orang yang ada di ruangan ini tak bisa mengeluarkan kata-kata.
Mereka seperti sadar apa yang sebenarnya dirasakan Sakinah.

“Kang, Teh, apa tidak sebaiknya Sakinah yang memilih siapa yang ingin dia nikahi?”
ibuku akhirnya bersuara.

Kang Ajie terlihat bingung. Ia membantu Sakinah duduk di sampingnya. “Sakinah, jawab dengan jujur, apakah kamu bersedia menikah dengan Sarkim?” tanyanya kemudian.
Sakinah diam.

“Jawab sakinah,” kataku.

Sakinah menggeleng. Yes! Aku merasa senang dengan jawabannya. “Apakah kamu bersedia menikah dengan Restu?” tanya Kang Ajie lagi. Dan Sakinah mengangguk. Aku tersenyum bahagia. Aku merasa menang! Kang Ajie menatapku, bapak, dan ibu bergantian. Ia mengangguk.

Aku dan Sakinah resmi menjadi suami istri. Kami duduk di bawah pohon rambutan saat fajar, bukan senja seperti biasanya.
Rumah peninggalan orangtua Sakinah mulai dibangun ulang. Sementara waktu Sakinah tinggal di rumah orangtuaku, sedangkan aku tetap bekerja di Jakarta, setidaknya sampai proyek pembangunan gedung selesai dan rumah Sakinah pun selesai. Aku berhasil mengamankan pekerjaanku.
Rencananya kami akan tinggal di rumah peninggalan orangtua Sakinah. Aku akan mengumpulkan banyak uang selama bekerja untuk modal usaha di Kampung Sukamanah. Sawah peninggalan orangtua Sakinah akan kuurus beserta sawah milik bapak. Aku ingin

mencoba bertani sayur-mayur dan budidaya ikan. Air di sungai sini memang keruh, namun tidak tercemar bahan kimia. Sepertinya bagus untuk budidaya ikan dalam kolam empang.
“Terima kasih, Sakinah. Jujur aku sangat ketakutan akan kehilanganmu,” kataku. “Aku akan jadikan kesempatan ini untuk benar-benar memperbaiki diri dan hidup. Aku tidak mau melakukan kesalahan lagi. Doakan aku,ya.”
“Iya, Kang. Aku akan selalu mendoakanmu. Aku akan selalu menunggumu di sini,” ujar Sakinah.
Aku mengecup keningnya sebelum berpamitan. Aku berangkat ke Jakarta pagi ini.

“Hati-hati di jalan, Kang.”