What do you want - part 1



What Do You Want

    Matahari hari ini bersinar dengan terik. Tenggorokanku terasa sangat kering karena sedari tadi terus mengoceh bersama kedua teman sohibku. Renata hanya diam mendengarkan sesekali menimpali sedangkan Aninda yang sejak masuk ke kelas tidak berhenti bicara. Aninda memang yang paling cerewet dan konyol diantara kami bertiga, tetapi jika tak ada dia maka akan terasa kurang saat berkumpul. Dan bicara soal Renata dialah yang paling tenang dan pintar. Mungkin memang orang yang berotak encer di takdirkan untuk memiliki kepribadian yang pendiam. Aku juga tidak yakin, tetapi kebanyakan di sekolahku memang begitu. Yang pintar memang tidak banyak tingkah. Tidak seperti aku yang setengah-setengah ini. Inginnya pintar tapi apalah mau di kata belajar saja harus tunggu suasana hati cerah dulu.

Aku pun akhirnya mengajak mereka pergi ke kantin untuk membeli minum. Karena aku yakin jam saat ini pasti memang sengaja kosong. Dan itu adalah surga bagi para murid yang suka nongkrong di luar kelas. Saat berjalan bertiga, dengan sengaja Andina menyikut lenganku sampai badanku sedikit oleng menyenggol Renata. Dengan sedikit rasa kesal aku pun membalasnya dengan mencubit lengannya dan Andina mengaduh.
''Kira-kira dong kalo mau nyikut, lemes nih belum sarapan main senggol aja.'' omelku pada Andina.

''Elah, diem tuh liat si Andi lagi mepetin bocah lagi.'' jawabnya dengan semangat sambil menunjuk Andi dengan dagunya. Aku pun melihat ke arah yang di tunjuk oleh Andini. Sebenarnya aku sudah biasa mengetahui tabiat dari Andi, tetapi setelah melihat sekilas padanya itu sudah cukup bagiku. Aku tidak mau mata indahku untuk melihat kelakuan Andi yang seperti ibarat permen karet, menempel pada tempat yang tidak semestinya. Setiap hari kegiatannya hanya mendekati anak-anak siswi yang menurutnya bisa dia jadikan pacar. Jika membahas Andi maka sampai aku mau pulang juga tidak akan ada habisnya.

''Lo nggak apa-apakan?'' Renata yang sedari berjalan tadi diam akhirnya mengeluarkan suara. Bertanya padaku seolah-olah aku mau pingsan.

''Gue pusing dari tadi pagi belum sarapan.'' jawabku
''Ya elah, si Markonah pake acara ngeles. Tuh naik bajaj depan sana biar barengan ngelesnya.'' kali ini yang bicara Andina dengan nada yang lumayan membuat telingaku berdengung.

''Lo pikir gue anak TK gitu pake segala ngalihin omongan. Eh, dengerin nih kuping lo, emang mau sampe kapan lo sembunyi sih ?. Lo nggak capek apa gitu terus tiap ada Andi.'' semprotnya kesal padaku. Aku berusaha tidak tergoda untuk menimpali perkataan Andina. Pandanganku hanya tertuju pada jalan yang ku lalui di depan.
 
''Gue ngomong nggak di denger lagi. Emang nih anak bandel minta ampun dah.'' gerutu Andina padaku dengan nada suara yang sudah normal tidak seperti pada saat yang baru saja terjadi tadi.

''Gue denger An, tapi nggak gue masukin ke kepala gue jadi yah udah ilang dah tuh omongan lo yang tadi buatnyadarin gue.'' aku berusaha menggodanya dengan sedikit kekehan di akhir bicaraku.

''Serah lo dah capek gue ngomong mulu dari tadi, di simpen aja nggak apalagi di jabanin sama lo. Ren, ngomong napa diem mulu dari tadi bantuin tuh ngomong sama temen lo suruh sadar perasaan kali. Heran gue sama kalian berdua.'' Masih dengan mengomel sambil menyilangkan tangan di dadanya. Renata hanya tersenyum sembari merangkul pundak Andina.

Saat Renata bicara sekali ia menimpali omongan kita maka kita berdua pasti sudah berhenti adu mulut. ''Ya udah lah An, kita bisa apa sih toh itu juga pilihan Stefi kok buat sembunyiin perasaanya. Tugas kita cuma ngasih saran buat dia. Lo aja yang pinter bikin sadar orang masih di anggap lewat apa kabar gue.''

Sebenarnya aku selalu memikirkan perkataan kedua temanku itu, tetapi aku berusaha untuk terlihat tak peduli. Mungkin bagi orang lain mengungkapkan perasaan akan jauh lebih baik bagi mereka. Tetapi tidak bagiku. Bagaimana mau mengungkapkan perasaan saat orang yang kita sayang terlihat seperti cowok yang dengan gampangnya mendekati perempuan lain demi kesenangannya sendiri. Apa yang harus aku lakukan jika semua itu terjadi padaku selama ini. Teman-temanku memang sudah sering atau bahkan setiap bertemu dengan orang yang aku suka selalu menasehatiku untuk mengungkapkannya. Tetapi, itu semua tidak semudah yang kita kira. Itu sulit buatku. Dan aku pun tak tahu sampai kapan akan aku akan seperti ini.

Karena, aku yakin pada Tuhan. Aku pasrahkan semuanya pada Sang Kuasa. Jika memang aku berjodoh dengannya maka mudah saja kok bagi Tuhan untuk mendekatkanku dengan jodohku. Itulah yang selama ini aku yakini. Jadi, aku tidak akan memaksa keadaan untuk berpihak padaku karena aku tahu bukan aku yang berkuasa di sini. Jadi, aku membiarkan ini semua mengalir apa adanya saja.

Sesampainya kami di kantin, aku langsung memesan minuman dan makanan untuk kami bertiga. Aku sudah hapal kok apa makanan yang mereka sukai. Aku memesan es jeruk yang esnya minta banyak untuk membuat hati lebih adem setelah melihat Andi yang terus-terusan mepetin cewek-cewek di sekolah. Setelah selesai urusan di kantin kami kembali ke kelas. Di perjalanan menuju kelasku, tak sengaja pandanganku bertemu dengan Andi. Entah kenapa tiap dia melihatku tak pernah mau tersenyum selalu datar menatapku. Padahal ketika sedang sama cewek lain dia menebar senyum manis. Tetapi, aku berusaha untuk tidak memedulikannya hanya sekilas memandangnya. 

Kegiatan belajar di sekolah sudah usai, aku hari ini pulang sendirian. Biasanya kami pulang tetap bertiga, tetapi Andina dan Renata sedang mengikuti ekstrakurikuler untuk olahraga basket. Jadi, aku pun berjalan menuju pintu gerbang untuk pergi ke halte bus. Ketika melewati parkiran tiba-tiba sosok Andi muncul entah dari mana menabrak diriku sampai aku terjatuh. Bokongku mendarat duluan dan sikutku sedikit tergores. Sedangkan Andi hanya terhuyung. Dan bukan hanya Andi yang berada di parkiran, ternyata si biang kerok dari jatuhnya diriku adalah Rama dan Sandi. Mereka adalah teman sohib Andi.

''Eh, sorry sorry. Gue nggak sengaja.'' kata Andi sambil berusaha menyentuh tanganku untuk membantuku berdiri. Sebenarnya perasaanku lebih ke gugup daripada sakit ketika tanganku di pegang oleh Andi. Lalu, semenit kemudian baru terasa sakit saat Andi menjelaskan bahwa mereka bertiga sedang bercanda lalu kedua temannya itu dengan tiba-tiba mendorongnya dan mengenaiku. Dan setelahnya aku melihat kedua temannya itu kabur sambil melambaikan tangan seolah mereka tak berdosa sudah membuatku merasakan sikut perih dan bokong yang nyeri. Ingin mengumpat tapi masih ada Andi di depanku. Aku pun hanya bisa menggerutu saja.

''Mereka emang rese sih. Sekali lagi sorry.'' tambahnya lagi, aku masih diam bingung mau apa saat berhadapan dengan Andi.

''Nggak apa-apa. Nanti juga sembuh sendiri kok. Gue baik-baik aja kok.'' jawabku sambil meniup bagian sikut yang luka. Padahal ini tidak baik-baik saja, yang tergores itu perih rasanya. Dan dengan menekan rasa gugupku aku memutuskan untuk memandangnya dan bilang untuk mau pulang.

Mencoba menghentikan langkah pertamaku dia pun memegang tanganku lagi. ''Kenapa sih lo kok kayak nggak mau banget ngeliat gue. Lo ada dendam sama gue. Gue antar lo pulang.'' bicaranya padaku yang seperti sedang menilai ekspresiku. Jika aku boleh berteriak di depannya mungkin aku akan bilang kalau 'gue dendam sama lo sampai-sampai gue nggak bisa untuk lupain fakta kalo lo tuh cowok kampret yang udah bikin gue jatuh cinta sama orang semacem lo.' Tetapi, itu hanyalah khayalan yang tak sampai. Karena aku tahu saat kita sudah mencintai seseorang, maka mulai detik itu juga kita harus menguatkan hati kita untuk siap terluka. 

Aku mengambil napas dalam dan mengembuskannya. Aku tatap matanya. ''Lo nggak ada salah sama gue kecuali yang barusan. Jadi, nggak ada alasan gue buat ada dendam sama lo''.

''Ya udah, kalo gitu gue anterin lo pulang. Tunggu sini gue ambil motor dulu. Awas aja lo kalo kabur.''

Aku tidak mengerti kenapa juga dia harus pakai mengancam segala. Tetapi, di sisi lain hatiku juga gembira bisa dekat dengan Andi. Tapi, aku tidak boleh terlihat senang, aku harus tetap bersikap mengacuhkannya. Dia kembali membawa motor gedenya yang berwarna putih di depanku. Menyuruhku untuk naik ke motornya. Dan sekilas setelah aku maju mendekat aku melihat dia tersenyum tipis pertama kali padaku.

Andi melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan. ''Alamat lo dimana?.'' tanyanya

''Udah, entar gue kasih tau kalo udah deket. Jalan terus aja. Jangan liatin cewek cakep mulu. Jangan liat kemana-mana liat depan aja kalo ngebonceng gue.'' sinisku saat melihat kepala yang tertutup helm itu bergerak kekiri kekanan terus.

Dia tertawa pelan tak menjawab perkataanku. Saat motornya berhenti di depan pagar sederhana rumahku aku turun dari motor. 

''Kapan-kapan gue mampir.'' katanya sambil tersenyum. Aku belum berterimakasih tapi dia sudah berkata duluan. Aku masih berpikir apakah ini memang rencana Tuhan membuatku untuk lebih dekat dengan Andi. Kejadian yang tidak akan terduga justru bisa membawaku untuk duduk berdua dengannya di atas motor. Rencana Tuhan memang tidak ada yang bisa menebaknya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita kecuali Tuhan. Banyak dari kita yang suka mengeluh akan hal kecil. Dan aku tidak mau seperti itu, aku ingin menjadi wanita yang tangguh. Sesakit apapun yang ku rasakan akan aku nikmati sendiri. Seperti saat aku memutuskan untuk jatuh pada seorang Andi, aku akan menerima apapun yang akan terjadi. Entah dia akan acuh padaku ataupun terus mempertahankan gelar badboynya akan aku terima semua itu. Dan, aku juga berharap semoga aku bisa menghapus rasa yang ada di dalam hatiku ini jika memang aku tidak bisa bersama orang yang aku inginkan.