What do you want - part 2


''Tunggu... lo bilang apa tadi ?.'' sedikit heran mendengar omongannya.

Sambil menghela napas aku berkata. ''Gini ya Andi, lo yang buat gue jatuh jadi lo yang salah. Dan gue maklum soal itu. Lo juga udah nganter gue pulang. Itu juga mungkin sebagai bentuk rasa penebusan salah lo. Dan terimakasih udah anter gue. Jadi, disini gue cuma pengen lo tau kalo cuma sampe di sini aja. Kenapa lo berpikir seolah gue bakal ngebolehin lo mampir.'' 

Saat ini lebih ke perasaan kesal. Aku sendiri juga tak tahu kenapa reaksiku seperti itu padanya. Mungkin ini memang efek dari rasa tak terima ku atas sikap dia yang selalu berada di sebelah gadis yang selalu berbeda setiap kali aku melihatnya. Aku tahu yang aku lakukan ini memang keliru, mungkin Andi hanya berniat bercanda padaku untuk mencairkan suasana. Tetapi, selama di perjalanan sampai di depan rumahku dia tidak tahu kalau aku sibuk menenangkan hatiku dari perasaan gugup yang mendera. Jadi, terciptalah reaksi yang sedikit berlebihan.

''Wow....'' katanya sambil terkekeh.
''Apa sih masalah lo sama gue?.'' tanyanya padaku penasaran.

''Nggak ada.'' singkatku bicara. Tak berani manatapnya.

''Oh, mungkin gue tau lo kenapa agak sensi begini sama gue.'' Aku pun jadi penasaran akan jawabannya apa. Menunggu Andi akan menjawab apa tiba-tiba aku merasa jantungku berdegub dengan cepat. Sedikit cemas jika Andi mengetahui sisi lain dari diriku selain orang terdekatku seperti kedua teman kentalku itu. Dengan perlahan aku mengangkat wajahku yang sebelumnya sedikit menunduk saat menjawab pertanyaan terakhir Andi.

''Lo... tadi cuman makan semangkok bakso doang kan?'' Tanya langsung Andi padaku. Seketika aku terkesiap kaget. Bagaimana bisa seorang Andi yang notabene hanya seseorang yang diam-diam aku sukai tahu akan hal kecil yang sering aku lakukan. Aku memang suka makan, dan jika saat makan dikantin aku selalu menyembunyikan semangkuk bakso yang lain untuk aku makan lagi. Jadi, orang pasti tidak akan tahu. Tetapi, bagaimana bisa Andi mengetahuinya. 

Apakah selama ini sebenarnya dia diam-diam memperhatikanku, tapi tidak mungkin. Aku tidak boleh merasa senang dulu barangkali dia hanya menebak saja. Tetapi, jujur di dalam hatiku aku merasa sangat gembira mengetahui kalau orang yang aku suka tahu akan kebiasaanku.

''Gue tau tentang lo, kalo yang sekarang lo pikirin itu dari mana gue bisa tau semua itu.'' Belum sempat aku menjawab dia sudah lebih dulu menambahkan. Dan sekarang aku benar-benar gelisah dan gembira pada saat yang bersamaan. Gelisah karena memang benar dia diam-diam memperhatikanku tanpa aku sadari. Gembira karena bukan hanya aku yang diam-diam memperhatikannya ternyata dia pun sama. 

''Apa mau lo?'' tanyaku dengan suara sedikit tinggi menutupi perasaanku yang sebenarnya.

''Kenapa lo tau kebisaan gue, apa sekarang lo nggak punya kerjaan?'' cercaku lagi.

''Udahlah Stefi Ramadhania, gue udah tau hal-hal yang berkaitan tentang lo.'' katanya dengan ekspresi menjengkelkan. 

Tapi tunggu. Apa maksudnya dengan bilang kalau dia tahu semuanya. Apa dia juga tahu tentang perasaanku padanya. Astaga, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan.

''Wey, nggak usah di pikir serius. Tuh, jidat lo udah keriting cepet tua lo nanti. Dah, gue balik dulu.'' katanya dengan senyum manis padaku.

Belum sempat aku menjawab, Andi sudah melajukan motor besarnya. Aku pun masih bingung dengan apa yang aku alami hari ini hingga tak sengaja kakiku tersandung batu yang menyebabkan diriku tersadar dari pikiran rumitku. 

Besoknya saat sudah sampai di sekolah pagi-pagi aku mencari teman-temanku yang aku sayangi. Aku menceritakan apa yang sudah terjadi padaku kemarin. Aku tak menyangka jika reaksi mereka berdua lebih senang daripada diriku. Mereka menyarankan aku untuk terus maju mendekati Andi. Tetapi, aku juga takut jika apa yang sudah aku bayangkan akan berbuah manis tetapi malah akan sebaliknya.

Berhari-hari setelah kejadian itu aku berusaha untuk menghindari bertemu dengan Andi. Seperti anak kecil yang bermain petak umpet, tetapi disini yang bermain hanya aku saja karena sepertinya yang Andi tidak segan untuk mencariku kemanapun aku pergi. Termasuk untuk bertanya kepada teman-teman satu kelasku tentang keberadaanku. Mereka sering di tanya perihal kemana aku pergi. Dan itu membuatku jadi tidak nyaman. Kenapa bisa seperti ini. Sebelumnya hari-hariku penuh dengan ketenangan tapi sekarang setiap melangkah aku harus waspada seakan-akan ada seseorang yang akan menerkamku. Baiklah, mungkin iru sedikit berlebihan tetapi memang itu yang aku rasakan. Terserah orang-orang berkata apa aku tidak peduli. Kita tidak bisa mengontrol mulut dan pikiran setiap orang jadi aku akan menikmati apapun yang mereka katakan tentangku. Kedua temanku selalu bersamaku setiap kali aku akan keluar kelas. Tanpa mereka aku tak bisa apa-apa. Untuk itulah aku sangat menyayangi mereka berdua.

Tetapi, karena aku memang agak keras kepala jadi pada saat mau ke toilet aku memutuskan untuk pergi sendiri. Biasanya kami akan tetap bertiga bergerombol begitu. Tapi, mungkin itu memang sudah menjadi kesialanku hari ini.

Pada saat akan berbelok untuk menuju blok lorong toilet, tanpa sengaja Andi menabrak diriku lagi hingga aku pun terhuyung ke belakang. Tetapi, untungnya aku bisa cepat menyeimbangkan badanku agar berdiri lagi. Kami berdua sama-sama kaget saat saling bertatapan. Padahal sudah hampir selangkah lagi untuk sampai tapi kenapa harus bertabrakan juga. Aku kan jadi bingung harus bersikap bagaimana di hadapannya. 

''Sengaja menghindar lo?'' tanya langsung Andi. Saat aku sudah akan melangkah lagi.

''Gu... gue nggak ngehindar kok. Emang siapa yang gue hindarin? Nyamuk maksud lo?'' Balasku sambil menatapnya.

Dia menatapku datar. ''Nggak usah ngeles deh. Apa lo pikir gue bodoh gitu? Saat lo pikir gue nggak ngeliat lo saat itu juga gue tau lo sembunyi dimana.'' 

Lalu, untuk apa dia pergi ke kelasku dan bertanya pada teman-temanku. Apa maksudnya tadi. Aku terus berpikir sampai lupa bahwa Andi masih di depanku. Dan, baru tersadar saat Andi berdeham. Seketika aku juga tersadar akan pernyataannya tadi.

Aku yang bingung harus menjawab bagaimana. Bagaimana bisa Andi tahu kalau aku memang menghindarinya. Padahal, aku selalu berusaha untuk berhati-hati tidak terlihat olehnya. Apakah justru karena itu dia jadi tahu. Aku sungguh tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Tetapi, aku tidak boleh seperti ini terus. Aku harus menghadapi masalahku dengan badan tegap dan siap bertarung. Jadi, aku memutuskan untuk menyelesaikan apa yang sedang terjadi antara aku dan Andi ini dengan segera.

''What do you want ?'' tanyaku to the point dengan nada suara serius.

''Akhirnya lo bilang kayak gitu juga.'' jawabnya dengan senyum menyebalkan.

Apa maksudnya itu. Jadi, dia menunggu aku bilang seperti itu. 

''Waktu gue nggak banyak An, cepetan sebelum gue manjat dinding buat ngelangkahin jalan lo.'' sentakku kesal.

Andi terkekeh pelan. ''Nggak etis tau nggak ngomong deket toilet.'' Dia berkata seperti itu sambil menarik tanganku mengikuti langkahnya.

Andi mengajakku duduk sesampainya kami di taman belakang. Dengan perasaan dag-dig-dug aku bertanya lagi mau apa sebenarnya dia. Aku harus sampai berpura-pura kebelet ke toilet untuk memancingnya berbicara. Karena sedari tadi setelah sampai di taman dia hanya diam sambil menatap kedepan, dan dengan raut muka yang sulit aku terka. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

''Andi... '' panggilku pelan.

Dia yang tersadar akhirnya menatap dan menghadapku. Dengan tatapan yang intens dia membasahi bibir sebelum memulai bicara. Jika aku menebak, Andi terlihat gugup.

''Gue bingung mau mulai darimana. Yang pasti ini udah terjadi sama gue cukup lama. Dan nggak ada seorang pun yang tau kecuali guesendiri.'' bicaranya dengan sekali tarikan napas.

Otakku yang seakan mengerti pembicaraanya memerintahkan jantungku berdetak dengan cepat.

''Udah sejak lama gue merhatiin lo Stef, di mulai dari gue ngeliat lo ngebelain temen lo yang nggak sengaja nabrak temen gue. Gue ngerasa lo menarik. Dan mulai saat itulah, gue diem-diem jadi merhatiin lo.''

Oh Tuhan, astaga mulutku tidak bisa berbicara. Kejadian itu sudah satu tahun lebih terjadi. Dan dia udah merhatiin gue dari satu tahun lalu. Astaga, tanganku seketika gemetar. Belum siap menerima pernyataan lagi darinya. Apakah... apakah ini artinya dia sama sepertiku. Pikiranku mulai berasumsi macam-macam. Antara takut dan senang.Tetapi, aku tetap mencoba bersikap setenang mungkin. Membiarkan Andi melanjutkan pembicaraannya. Aku hanya bisa berharap apa yang akan Andi sampaikan berbuah manis untukku. Semoga Tuhan mendengarkan kata hatiku yang sedang gundah ini. 

Saat aku akan membuka mulut. Dia cepat-cepat menyela. ''Jangan ngomong dulu, gue belum selesai.'' Aku hanya memperhatikannya saja.