What do you want - part 4 & sinopsis



''Oh jadi gitu, tapi aku kok ngerasa aneh ya.'' protesku padanya karena aku memang tidak terbiasa bersikap manis. Aduh, aku jadi malu sebagai seorang perempuan seharusnya aku harus bisa lebih manis lagi dalam bersikap. Baiklah, mulai hari ini aku akan belajar lebih baik lagi. Karena aku yakin apa yang aku lakukan sekarang akan berdampak pada apa yang akan terjadi nanti. Tak ada salahnya untuk bersikap manis pada orang lain jika kita memang ingin di perlakukan dengan baik pula oleh orang lain.

''Udah kita coba aja, nggak ada salahnya nyoba hal baru''. Andi mencoba menyakinkanku setelah melihataku ragu.

Selama ini aku memang bukan anak yang manis. Aku selalu menggunakan panggilan elo gue pada orang seusiaku atau di bawah usiaku. Tetapi, beda lagi jika aku berbicara pada orang yang lebih tua. Aku akan berusaha bersikap sesopan mungkin. Itulah yang aku terapkan selama ini dalam hidupku. Jadi, pada saat Andi memanggilku dengan kata 'kamu' aku sedikit aneh. Tapi, tak apa-apalah demi melihat Andi membalas senyumku akan aku lakukan.
Renata dan Andina sempat tertegun beberapa saat setelah mendengar ceritaku. Mereka juga tidak percaya pada apa yang mereka dengar tapi memang itulah kenyataannya. Aku tidak mendapatkan reaksi berlebih dari dua orang tersebut. Malah justru mereka mengkhawatirkan aku. Mereka takut aku juga akan menjadi sasaran Andi. Jika hanya akan jadi mainan si badboy. Tapi, entah mengapa aku tidak ragu saat melihat Andi mengungkapkan isi hatinya tadi. Aku percaya pada apa yang sudah Andi katakan. Dan jika hatiku sudah mempercayai suatu hal maka itu sulit untuk di bantah.

Aku tahu mereka berdua bereaksi seperti itu. Mereka khawatir padaku karena mereka sayang padaku. Jika mereka tidak sayang padaku, aku yakin mereka akan masa bodoh dengan keadaanku. Mereka takut aku di permainkan oleh Andi. Mereka takut aku sakit hati jika aku hanya di jadikan mainan oleh Andi. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Yang mengerti akan arti dari kata teman yang sesungguhnya. Dan, aku berharap hubungan kami bertiga akan terus seperti ini selamanya. Tidak peduli akan ada hujan badai yang menerpa, kami akan saling berpegangan tangan saling menguatkan.

''Lo berdua nggak bakalan tau kalo nggak ngrasain jadi gue tadi.''

''Iye iye gue tau rasanya gayung bersambut. Ah elah Stef kebaperan lo.'' Andina mengatakannya dengan ekspresi sebal khasnya. 

Aku tidak marah karena memang seperti itulah khas dari Andina. Mungkin jika orang lain yang mendengarnya akan tersinggung. Tapi, aku tahu dia juga merasa senang untukku.

''Emang lo tau apa tuh gayung bersambut. Sok-sokan pake peribahasa lagi lo.'' timpal Renata pada Andina. 

Aku hanya tertawa melihat mereka berdua ribut kecil. Disitulah nikmat memiliki oran-orang yang kita sayang, saling menyayangi kita. Kita akan merasa berharga untuk mereka.

Dari kejauhan aku melihat Andi tersenyum berjalan menuju ke arahku. Sekarang aku yakin Tuhan memang segala di atas segala rencana yang sudah kita susun. Berharap akan merasakan kebahagiaan untuk seterusnya.



Sinopsis :

Aku adalah Stefi Ramadhania. Aku sedang menempuh Sekolah Menengah Atas. Mempunyai dua orang teman yang sehidup semati. Kami bertiga berbagi rasa sedih dan senang. Dan, mereka jaga tahu apa yang terjadi padaku. Mereka tahu kalau aku hanya bisa diam-diam menyukai seseorang tanpa mau menyatakannya. Karena bagiku melihat orang yang aku sayang dari kejauhan itu sudah cukup untukku. Tetapi, jika apa yang tidak bisa mungkin terjadi justru jadi kenyataan apa yang bisa aku lakukan. Dan aku percaya bahwa semua akan indah pada waktunya.